Home Aceh Banjir Juga Melumpuhkan Jurnalis Aceh, YARA: Pemerintah Jangan Buta Nurani

Banjir Juga Melumpuhkan Jurnalis Aceh, YARA: Pemerintah Jangan Buta Nurani

Aceh Barat, Buana News – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh bukan hanya merenggut harta benda masyarakat, tetapi juga secara senyap mematahkan tulang punggung profesi jurnalis. Di tengah genangan air dan lumpur yang baru surut, para pewarta justru menjadi korban yang nyaris tak terdengar suaranya.

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat, Hamdani, S.Sos., S.H., M.H., mendesak pemerintah daerah maupun pusat agar tidak menutup mata terhadap kondisi jurnalis yang terdampak banjir di berbagai daerah seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, hingga Lhokseumawe.

Menurut Hamdani, banjir kali ini tidak hanya merendam rumah dan pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan profesi jurnalis secara total. Banyak wartawan kehilangan kemampuan untuk bekerja karena alat utama mereka—kamera dan laptop—rusak terendam air.

“Bagi wartawan, kamera dan laptop bukan sekadar benda. Itu adalah nyawa profesi. Ketika alat itu rusak, maka berhentilah penghasilan, berhentilah tugas, dan berhentilah dapur berasap,” ujar Hamdani, Rabu (21/01/2026).

Ia menilai situasi ini sangat ironis. Di saat bencana, pemerintah kerap menikmati limpahan manfaat dari pemberitaan masif media—mulai dari pencitraan hingga terbukanya keran bantuan. Namun ketika para jurnalis yang menjadi ujung tombak informasi justru tertimpa musibah, negara seolah berpaling.

“Pemerintah sangat terbantu oleh kerja jurnalis saat bencana. Kamera mereka merekam penderitaan rakyat, tulisan mereka mengetuk nurani publik. Tapi ketika jurnalis itu sendiri menjadi korban, mereka dibiarkan berjuang sendirian,” tegasnya.

Hamdani menyebut adanya ketimpangan perlakuan yang mencolok. Jurnalis kerap diposisikan hanya sebagai alat publikasi, bukan sebagai manusia yang juga memiliki keluarga, kebutuhan hidup, dan hak atas perlindungan sosial.

Atas kondisi tersebut, YARA menyampaikan sejumlah desakan mendesak kepada pemerintah:

  1. Pendataan Khusus
    Pemerintah diminta melakukan pendataan secara spesifik terhadap awak media yang terdampak banjir, bukan menyamaratakannya dalam data umum korban bencana.
  2. Bantuan Alat Kerja
    Negara didorong menyediakan skema bantuan atau kompensasi untuk perbaikan maupun penggantian alat kerja jurnalis seperti kamera dan laptop yang rusak.
  3. Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan
    Menghapus stigma bahwa wartawan hanyalah “alat publikasi”, dan mengakui mereka sebagai bagian dari masyarakat yang juga berhak atas perlindungan saat bencana.

YARA mengingatkan, tanpa kehadiran jurnalis di lapangan, jeritan korban banjir tidak akan pernah sampai ke telinga publik dan pengambil kebijakan. Ironisnya, mereka yang menyuarakan penderitaan justru kini terperangkap dalam penderitaan yang sama, namun tanpa sorotan kamera.

“Jika jurnalis lumpuh, maka publik akan gelap. Pemerintah seharusnya memahami itu dan bertindak, bukan sekadar berterima kasih saat berita tayang,” pungkas Hamdani.

 

Exit mobile version