Banda Aceh – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam diingatkan agar tidak sekadar menunggu pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan menyambutnya dengan persiapan yang matang dan kesadaran penuh, baik secara spiritual maupun sosial.
Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat (Karo Isra) Sekretariat Daerah Aceh, Dr Yusrizal Zainal MSi dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Pusjar SKMK LAN, Kecamatan Darul Imarah, Jumat (6/2/2026), bertepatan dengan 18 Sya’ban 1447 Hijriah.
Menurutnya, Ramadhan merupakan momentum yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk memperbaiki kualitas iman dan amal.
“Ramadhan bukan hanya bulan ibadah rutin, tetapi peluang memperbanyak pahala, menghapus dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, Ramadhan perlu dijemput dengan persiapan, bukan ditunggu tanpa kesiapan,” ujar Yusrizal.
Ia menjelaskan, setidaknya terdapat empat langkah yang perlu dilakukan setiap Muslim dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan, pertama, memahami keutamaan Ramadhan.
Kesadaran akan besarnya keistimewaan Ramadhan menjadi landasan agar seseorang tidak menjalani bulan suci secara biasa-biasa saja.
“Ramadhan bulan penuh keberkahan, di mana pahala dilipatgandakan, terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan dan banyak keutamaan lain sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW,”
“Pemahaman ini, akan melahirkan motivasi kuat untuk memanfaatkan Ramadhan seoptimal mungkin,” ungkapnya.
Kedua, membersihkan hati dengan taubat dan memperbaiki hubungan sosial. Dosa dan konflik dengan sesama sering menjadi penghalang kenikmatan ibadah.
Karena itu, taubat harus dilakukan sejak sebelum Ramadhan tiba, disertai upaya memperbaiki hubungan dengan keluarga, sahabat, tetangga, serta rekan kerja.
“Ramadhan seharusnya menjadi momentum membersihkan hati dari kebencian, dendam, dan perselisihan,” tegasnya.
Ketiga, mengelola waktu dan menyelesaikan urusan dunia. Buruknya manajemen waktu membuat banyak orang kehilangan momen berharga di bulan Ramadhan.
Yusrizal mengingatkan umat Islam supaya mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti penggunaan media sosial berlebihan, menggantinya dengan tilawah Al-Qur’an, dan ibadah lainnya.
“Selain itu, urusan dunia yang bisa diselesaikan sebelum Ramadhan sebaiknya dirampungkan agar fokus ibadah tidak terganggu,” ujarnya.
Keempat, menetapkan target ibadah dan melakukan pemanasan spiritual.
Menetapkan target, seperti mengkhatamkan Al-Qur’an minimal satu kali selama Ramadhan, memperbanyak shalat sunnah, dzikir, dan doa, akan membuat ibadah lebih terarah.
Ia juga menganjurkan agar bulan Sya’ban dijadikan sebagai masa latihan ketakwaan dengan memperbanyak puasa sunnah, istighfar, dan membaca Al-Qur’an.
Yusrizal menegaskan, seluruh persiapan tersebut bermuara pada tujuan besar Ramadhan, yakni pembentukan karakter seorang Muslim yang bertakwa, peduli sosial, dan bersyukur.
Keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kemeriahan Idul Fitri, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku setelah Ramadhan berakhir.
“Beribadahlah seakan-akan Ramadhan yang akan datang adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Tidak ada jaminan kita masih dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya,” tutupnya.Adv






