Malaysia, Buana News — Di tengah kerasnya kehidupan sebagai perantau di negeri orang, masih ada tangan-tangan yang tergerak untuk membantu sesama. Salah satunya Muhammad Yusuf, atau yang akrab disapa Cek Sop, seorang perantau Aceh asal Panton Labu yang kini menetap di Malaysia.
Kepedulian Cek Sop terhadap sesama warga Aceh tidak hanya diwujudkan melalui bantuan materi. Ia juga bersedia membuka pintu rumah dan memberikan tempat tinggal serta memfasilitasi warga Aceh yang datang ke Malaysia untuk mendapatkan pengobatan, khususnya mereka yang tengah menghadapi penyakit berat dan keterbatasan ekonomi.
Salah satu warga Aceh yang merasakan kepedulian tersebut adalah Sulaiman (43), warga Gampong Cot Barat, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Sulaiman diketahui sedang menderita sakit berat selama berada di Malaysia. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat dirinya menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pengobatan yang layak.
Kisah Sulaiman kemudian menjadi perhatian para perantau Aceh di Malaysia. Berawal dari komunikasi antara warga Aceh di Malaysia dengan keluarga Sulaiman di Aceh, informasi mengenai kondisi kesehatan dan penyakit kronis yang dideritanya terus disampaikan dari satu orang ke orang lainnya.
Dari komunikasi dan jaringan sosial sesama perantau itulah kabar tentang kondisi Sulaiman akhirnya sampai kepada Muhammad Yusuf alias Cek Sop.
Tanpa banyak pertimbangan, Cek Sop kemudian bersedia membantu. Ia memberikan tempat untuk Sulaiman selama berada di Malaysia sekaligus membantu memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan agar Sulaiman dapat memperoleh perawatan dan pengobatan.
Bagi Cek Sop, membantu warga Aceh yang sedang mengalami kesulitan bukan sekadar persoalan materi, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama perantau dan rasa kemanusiaan.

Kisah ini juga menunjukkan kuatnya solidaritas warga Aceh di perantauan. Mereka membangun koneksi, saling berbagi informasi, mencari jalan keluar dan berusaha memastikan warga Aceh yang sedang sakit tidak merasa sendirian di negeri orang.
Di saat keluarga di Aceh hanya bisa menunggu kabar dari kejauhan, kepedulian para perantau menjadi jembatan yang menghubungkan pasien dengan bantuan yang dibutuhkan.
Bagi keluarga Sulaiman, bantuan tersebut tentu memiliki arti yang sangat besar. Bukan hanya soal tempat tinggal maupun fasilitas pengobatan, tetapi juga tentang hadirnya orang-orang yang bersedia mengulurkan tangan ketika keluarga sedang berada dalam keadaan sulit.

Sementara itu, ibunda Sulaiman, Mursyidah, saat dikonfirmasi media ini pada Rabu, 16 September 2026, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu putranya, terutama kepada Muhammad Yusuf alias Cek Sop serta para perantau Aceh di Malaysia.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Cek Sop dan seluruh warga Aceh di Malaysia yang sudah membantu anak kami. Kami tidak mampu membalas kebaikan ini dengan apa pun. Hanya Allah yang mampu membalas semua kebaikan dan keikhlasan mereka,” ungkap Mursyidah.
Mursyidah juga berharap kepedulian yang diberikan kepada Sulaiman dapat menjadi kekuatan bagi putranya untuk terus menjalani pengobatan dan menghadapi penyakit yang dideritanya.
“Sebagai seorang ibu, hati saya sangat terharu. Ketika anak kita sakit jauh dari keluarga dan kita sendiri tidak punya banyak kemampuan, ternyata masih ada orang-orang yang peduli dan mau membantu. Kami merasa tidak sendirian. Semoga Allah memberikan kesehatan, rezeki yang luas dan umur yang penuh keberkahan kepada Cek Sop serta semua yang telah membantu anak kami,” tuturnya.
Kisah Cek Sop dan Sulaiman menjadi gambaran bahwa jarak antara Aceh dan Malaysia tidak selalu berarti jarak dalam rasa persaudaraan. Ketika seorang warga Aceh sedang terbaring sakit di negeri orang, masih ada tangan sesama perantau yang bersedia merangkul dan membantu.
Di tengah kesibukan mengejar kehidupan dan mencari rezeki di negeri jiran, Cek Sop memilih menyisihkan ruang untuk kemanusiaan.
Sebab, bagi sebagian orang, sebuah bantuan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seseorang yang sedang sakit, jauh dari keluarga dan tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, uluran tangan itu bisa menjadi harapan untuk tetap bertahan.






